Ratko Mladic, Jagal Bosnia Seharga IDR 180 Miliar - Posting Ulangan

Ratko Mladic, Jagal Bosnia Seharga IDR 180 Miliar

Ratko Mladic, Jagal Bosnia Seharga Rp 180 MiliarRatco Mladic, si penjagal ribuan muslim Bosnia. (Foto: BBC World)

Pada 12 Juli 1995, Jenderal Ratko Mladic mendatangi kamp pengungsi muslim di Srebrenica, Bosnia yang dijaga pasukan keamanan PBB. Dia mengelus kepala seorang bocah lelaki seolah dengan penuh kasih. Sementara pasukan pengawalnya membagi-bagikan cokelat kepada anak-anak di sana.
"Tenanglah kalian di sini aman, kami akan menjaga kalian," katanya kepada warga sekitar.
Tapi semua itu tipuan belaka. Selang sepuluh hari kemudian, ribuan orang pasukannya mengepung kamp pengungsi tersebut. Kaum pria dan para bocah laki-laki ditangkapi dan dikumpulkan, lantas ribuan butir peluru menghujani mereka dari berbagai penjuru. Tak lama berselang, puluhan buldoser bergerak menyeret dan mengubur ribuan jenazah itu.
Saliha Osmanovic menjadi salah satu saksi di Mahkamah Internasional yang mengadili Ratko Mladic. "Dia membagi-bagikan roti dan cokelat untuk menunjukkan kepada dunia betapa baiknya dia. (Tapi) kemudian dia membunuh mereka semua," ujar Saliha yang suami dan kedua anak lelakinya dibantah anggota pasukan Mladic.
Srebenica adalah wilayah yang didiami Muslim Bosnia, sekitar 80 km di utara Sarajevo, dan sebenarnya memiliki status daerah perlindungan PBB.
Mladic memimpin sekitar 180 ribu tentara. Pembantaian lebih dari 7.000 jiwa warga muslim di Bosnia bukan yang pertama dan terakhir dilakukannya. Di hari proklamasi kemerdekaan Bosnia-Herzegovina, 5 April 1992, Mladic dan pasukannya mengepung ibukota Bosnia-Herzegovina, Sarajevo. Dia mencoba menduduki pusat kota dan mendepak pemerintahan resmi Bosnia lewat kudeta. Pengepungan Sarajevo berlangsung selama 1.425 hari (5 April 1992-29 Februari 1996).
Warga kota selama empat tahun hidup dalam cengkeraman ketakutan. Senjata berat kerap meledak menghancurkan aneka gedung, juga peluru para sniper sewaktu-waktu menyelusup ke sekujur tubuh mereka tanpa bisa diduga. Hasilnya, lebih dari 10 ribu warga kota itu tewas. 
Warga kota selama empat tahun hidup dalam cengkeraman ketakutan. Senjata berat kerap meledak menghancurkan aneka gedung, juga peluru para sniper sewaktu-waktu menyelusup ke sekujur tubuh mereka tanpa bisa diduga. Hasilnya, lebih dari 10 ribu warga kota itu tewas. 
Selebaran untuk yang bisa menangkap Ratco Mladic (Dok. The Telegraph)Selebaran untuk yang bisa menangkap Ratco Mladic (Dok. The Telegraph)
Entah iblis macam apa yang merasuki jiwa Mladic, sehingga tampil laksana monster. Hanya saja, lelaki kelahiran Desa Kalinovik, Bosnia, 12 Maret 1943 itu tergolong jauh dari kasih sayang orang tua, khususnya ayah. Ketika usianya belum genap dua tahun, sang ayah tewas dalam sebuah pertempuran melawan Nazi.
Saat dewasa Mladic menjadi anggota Liga Komunis Yugoslavia, lalu berkarier di Tentara Rakyat Yugoslavia. Posisinya melejit dari perwira tinggi, kepala staf angkatan darat, sampai akhirnya ditunjuk sebagai jenderal saat memasuki Perang Bosnia tahun 1992-1995. 
Kekejaman yang dilakukan Mladic berawal pada 1992, ketika Muslim Bosnia dan warga Kroasia memilih merdeka dalam referendum yang diboikot oleh warga Kroasia. Perang terbuka pun meletus antara Muslim Bosnia dan Kroasia di satu sisi dan Serbia Bosnia di kubu lain.

Bersama pemimpin politik Serbia, Radovan Karadzic, Mladic menjadi salah satu tokoh kunci pembersihan etnis Bosnia. Mladic selalu hadir di berbagai garis depan pertempuran yang brutal. Sepak terjang nan barbar oleh Mladic membuat putri kesayangannya, Anna bunuh diri. Mahasiswi kedokteran itu tak kuasa menanggung malu melihat ulah biadab sang ayah.
Dalam catatan hariannya, Mladic menulis bahwa pada 1992 Simo Drljaca, Kepala Polisi di Prijedor pernah meminta bantuan pasukannya untuk memindahkan sekitar 5.000 mayat di Tomasica. "Terserah kalian akan membakarnya, mencacahnya, atau menggunakan cara lain." Atas permintaan tersebut Mladic membalas, "Kau yang membunuh mereka, kau lah yang harus menguburnya."
Selepas perang, 1992-1995, di bawah perlindungan Presiden Serbia Slobodan Milosevic, selama bertahun-tahun Mladic bisa hidup bebas menikmati segala yang diinginkannya. Dia bisa makan di restoran, menonton sepak bola, hingga pacuan kuda. Masa gelap mulai menghantui hidupnya ketika Slobodan Milosevic ditangkap pada 2001.
Mladic pun harus hidup dalam persembunyian. Sebagai buronan masyarakat Internasional, kepala Mladic pernah dihargai Rp 90 miliar pada 1996, lalu naik menjadi Rp180 miliar pada 2010.
Dia bersumpah tak akan menyerahkan diri dalam keadaan hidup-hidup. Tapi ketika polisi menyergapnya di sebuah rumah di Lazarevo pada 26 Mei 2011, dia sama sekali tak melawan. Dua senjata berisi peluru yang disiapkan untuk membela diri, tak disentuhnya. Stroke membuat segala kecongkakannya luruh. Lengan kanannya lumpuh.
"Jika mau, saya bisa menembak mati sepuluh polisi (yang menangkapnya), tapi mereka hanya perwira-perwira muda yang menjalankan tugas," kata Mladic kepada tim polisi yang menahannya.
Setelah menjalani proses pengadilan selama 530 hari sejak 2011, Hakim Ketua Majelis Hakim Mahkamah Internasional Alphons Orie memvonisnya seumur hidup. Sebelum membacakan putusan, Alphons mengusir Mladic dari ruang sidang karena terus memaki-maki hakim. "Ini semua adalah kebohongan, Anda adalah pendusta," ujarnya. Sumber: CNN | BBC | NYTimes

Subscribe to receive free email updates:

Advertisement